You are here:  / OPINI / Mahasiswa : dalam Sajak Pertemuan Mahasiswa

Mahasiswa : dalam Sajak Pertemuan Mahasiswa

Oleh : Joko Priyono*

 

”Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Pramoedya Ananta Toer-

 

Barangkali kalau W.S. Rendra masih hidup di dunia ini dan diberi kesempatan untuk mengisi acara kegiatan kemahasiswaan seperti seminar, orientasi mahasiswa ataupun yang lainnya akan menyairkan salah satu sajaknya. Sajak itu merupakan sajak pertemuan mahasiswa, yang dibuat pada tanggal 1 Desember 1977. Dalam sejarah, sajak tersebut dipersembahkan untuk pertama kalinya kepada para mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dalam salah satu acara adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”.

Kurang lebihnya sajak pertemuan mahasiswa karya W.S. Rendra adalah sebagai berikut :

Sajak Pertemuan Mahasiswa

Matahari terbit pagi ini

Mencium bau kencing orok di kaki langit

Melihat kaki coklat menjalar ke lautan

Dan mendengar dengung lebah di dalam hutan

Lalu kini ia dua penggalah tingginya

Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan

Kita bertanya :

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga

Orang berkata “Kami adalah maksud baik”

Dan kita bertanya : ”Maksud baik untuk siapa?”

Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina

Ada yang bersenjata, ada yang terluka

Ada yang duduk, ada yang diduduki

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras

Dan kita di sini bertanya :

“Maksud baik saudara untuk siapa?”

“Saudara berdiri di pihak yang mana?”

Kenapa maksud baik dilakukan

Tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota

Perkebunan yang luas

Hanya menguntungkan segolongan kecil saja

Alat-alat kemajuan yang diimpor

Tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

Tentu kita bertanya: “Lantas maksud baik saudara untuk siapa?”

Sekarang matahari, semakin tinggi

Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala

Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :

Kita ini dididik untuk memihak yang mana?

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini

Akan menjadi alat pembebasan

Ataukah alat penindasan?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam

Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok

Dan rembulan akan berlayar

Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda

Akan hidup di dalam bermimpi

Akan tumbuh di kebon belakang

Dan esok hari matahari akan terbit kembali

Sementara hari baru menjelma

Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan

Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra

Di bawah matahari ini kita bertanya :

Ada yang menangis, ada yang mendera

Ada yang habis, ada yang mengikis

Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!

 

Sajak tersebut setidaknya akan memunculkan sebuah ikatan emosional yang membuat keterpukauan dari pendengar sendiri. Tentu, tak mungkin kalau W.S. Rendra tidak memiliki maksud dalam menyajikan satu syair yang lumayan panjang ini. Kita sebagai pendengar terutama mahasiswa diajak untuk memahami dan fokus melalui istilah untuk kembali bertanya pada diri sendiri. Mahasiswa dalam keberjalanannya memiliki tugas, wewenang maupun orientasi yang mereka bangun di bangku kuliah. Namun, keadaan tersebut mahasiswa dituntut untuk mengoreksi lebih tepatnya keadaan riil yang dihadapi mahasiswa. Mahasiswa diajak untuk merenung maksud baik yang ditawarkan pemerintah, apakah benar-benar untuk kesejahteraan rakyat atau ke pemerintah itu sendiri.

Mahasiswa merupakan segolongan kaum intelektual yang dituntut untuk selalu berpikir, berproses, bergerak dan melahirkan sebuah perubahan. Perubahan tersebut merupakan perubahan untuk diri pribadi agar senantiasa menjadi insan yang religius, dinamis dan kritis serta perubahan terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya. Dalam tatanan kehidupan sosial, peran kalangan mahasiswa berposisi sangat vital bagi kehidupan berbangsa. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan landasan tugas maupun fungsi yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri.

Romantisme sejarah kehidupan mahasiswa telah mencatat beberapa peristiwa penting yang hingga sekarang masih dikenang. Selain menjadi civitas akademika yang merepresentasikan kelompok intelektual, mahasiswa juga diharapkan menyalurkan ide-ide kebangsaan dengan berbagai aktualisasi hingga melalui sebuah gerakan ekstraparlementer yang diambil akan berpengaruh terhadap pengambilan kebijakan nasional. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa peristiwa antara lain adalah proses penurunan Ir. Soekarno pada tahun 1966 hingga penggulingan kekuasaan era Soeharto tahun 1998.

Hakikat dari mahasiswa

Istilah mahasiswa seringkali memang sangat begitu dielu-elukan oleh berbagai kalangan. Mahasiswa menjadi sosok insan akademis yang belajar di perguruan tinggi dengan tujuan akhir adalah mengabdikan diri kepada masyarakat Indonesia. Tanggung jawab dari mahasiswa sendiri adalah meliputi tanggung jawab sosial, tanggung jawab moral dan tanggung jawab intelektual. Dimana, dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut landasan dari mahasiswa adalah memilikinya beberapa fungsi yang melekat dalam dirinya meliputi Agent Of Change (Fungsi pembaharuan), Iron Stock (Fungsi investasi masa depan), Direct Of Change (Fungsi pembaharuan), Moral Force (Fungsi moral) dan Social Control (Fungsi kontrol sosial).

Dalam perkembangannya, fungsi tersebut akan terwujud melalui sebuah pengorganisasian massa yang termanifestasi dalam organisasi kepemudaan. Namun dalam keberjalanannya sendiri akan mengalami perkembangan pola pikir maupun paradigma yang ada dalam kalangan mahasiswa sendiri. Poin penting dalam pembahasan ini adalah bagaimana keharusan ada sebuah keberpihakan dari apa yang dilakukan oleh mahasiswa. Keberpihakan tersebut adalah kepada rakyat Indonesia, dimana setiap apa yang dilakukan oleh mahasiswa dapat berdampak bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Terlebih dalam sistem pendidikan tinggi yang ada di Indonesia, setiap kampus memiliki visi misi yang dikemas dalam sebuah landasan bernama Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma Perguruan Tinggi tesebut yakni meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Tentu dengan keadaan seperti ini mahasiswa sebagai subjek vital harus selalu melakukan usaha-usaha yang riil dalam keberpihakan yang harus diwujudkan. Sehingga ada kejelasan mahasiswa harus berdiri di pihak yang mana dan memahami maksud baik yang ada diberikan kepada siapa.

*)Wakil Menteri Kajian Strategis BEM FIMPA UNS 2016

Sebarkan!

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked ( required )

KESEKRETARIATAN

Kesekretariatan LPM SCIENTA FMIPA UNS beralamat di Gedung UKM FMIPA UNS lt. 2 Jln. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Jebres, Surakarta (57126)

KONTAK KAMI

Terhubung dengan kami di sosial media bawah ini:
Atau email : lpmscientauns@gmail.com

KONTAK PERSON

Kontak person LPM SCIENTA FMIPA UNS :
  • Saras 08572868-5645 (Pimpinan)
  • Naura 081286086115 (Redaksi)
  • Isma 087735156155 (Humas)

KRITIK DAN SARAN

Apabila anda mempunyai pertanyaan, kritik, serta saran untuk LPM SCIENTA FMIPA UNS bisa langsung mengakses formulir di bawah ini :
Klik Formulir Kritik dan Saran