You are here:  / Fiksi / Tuan yang Membisu

Tuan yang Membisu

Oleh : Lee-jj

Beliau masih terdiam. Mulutnya selalu membisu. Beliau hanya menjawab respon orang melalui raut wajahnya. Tuan Bara namanya. Beliau tinggal sendiri tanpa sanak saudara. Tetapi bukan seorang lelaki tua yang lemah. Tetangganya selalu menyapanya. Hanya senyuman yang tersungging di bibirnya. Tak ada sepatah katapun diucapkannya. Tak pernah aku melihatnya berbicara dengan orang. Sangat mengherankan. Di jaman globalisasi seperti ini masih tersisa individualisme.

“Permisi Tuan Bara. Izinkan saya bersilaturrahmi dengan Anda.” Tetangganya mencoba menyapanya.

Tuan Bara hanya tersenyum dan menghidangkan sedikit makanan yang Beliau punya.

“Alangkah baiknya Tuan, apabila warga saling bersilaturrahmi. Apakah Tuan keberatan dengan kehadiran saya?”

Tuan yang selalu memakai topi bundar hanya menggelengkan kepala. Tetangga itu seperti bermain tebakan. Hanya mendapatkan anggukan dan gelengan kepala. “Saya pamit pulang Tuan. Apabila Tuan butuh bantuan jangan sungkan meminta bantuan kami.” Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang terlihat.

Semenjak itu tak ada seorangpun yang mengunjungi Tuan itu. Benar-benar individualis. Tak pernah sedikitpun meminta bantuan tetangganya. Tiap pagi hingga sore menjelang hanyalah duduk terdiam di teras rumahnya. Sungguh pemandangan tak baik bagi warga kami.

Sore itu terlihat lelaki tua itu memandangi sebuah foto yang digenggamnya. Terlihat seperti foto lusuh dan tak baru lagi. Hanya satu foto saja yang dilihatnya. Mata Tuan itu seperti berlinang. Tak lama beliau masuk ke rumahnya.

Bukan main, ada seseorang yang dapat bertahan hidup tanpa siapa-siapa. Bukan main, ada seseorang yang nampaknya seperti tidak membutuhkan bantuan apapun dari siapapun. Pemandangan itu membuatku penasaran.

Pagi hari sebelum aku menginjakkan kakiku di rumah Beliau, Aku melihatnya dari kejauhan. Wajahnya nampak pucat. Badannya seperti tak kuat untuk berdiri. Beberapa saat Beliau jatuh pingsan. Aku tidak membawanya ke rumah sakit. Aku hanya menempatkan beliau pada kursi terasnya, karena pintu rumahnya terkunci. Dan beberapa saat Beliau tersadar.

“Apakah Tuan baik-baik saja? Maaf bukannya Saya lancang. Dari kejauhan Saya melihat Tuan jatuh pingsan. Sebagai manusia berjiwa sosial, Saya menolong Anda. Syukurlah Anda baik-baik saja.” Dengan terbata-bata Aku mengucapkannya. Bukan apa-apa, hanya saja Aku takut jika pembicaraanku menyinggung hati Beliau.

Aneh bukan main, Beliau hanya menganggukkan kepala. Tidak berterima kasih sedikitpun padaku. Aku tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Aku hanya penasaran.

Sejenak Aku terdiam, berharap Beliau mengucapkan sepatah kata. Lagi-lagi Aku hanya penasaran. Bagaimana suaranya, dan bagaimana caranya memperlakukan sesamanya.

Beberapa saat, beliau hanya tersenyum padaku. Matanya terlihat rasa ketulusan. Aku bisa membacanya. Beliau diam-diam berterimakasih padaku. Tangan kanannya juga menepuk pundakku. Lagi-lagi disertai senyuman. Dengan berat hati, kemudian Aku berpamitan dengannya. Tidak terdengar mulutnya mengeluarkan suara. Dan selalu senyuman yang terlihat. Aku menduganya, bahwa Beliau tuna wicara. Jika benar, seharusnya Beliau menggunakan bahasa isyarat.

Dua hari setelah kejadian itu, Aku kembali menghampiri rumah Tuan Bara di waktu siang. Aku melihatnya seperti beberapa waktu lalu. Foto lusuh masih dipandanginya dengan mata berlinang. Hanya berlinang, tetapi tidak setetespun jatuh membasahi pipinya. Aku kembali mendekat.

“Permisi Tuan. Bukan maksud Saya mengganggu. Saya melihat dari kejauhan Tuan terlihat sedih. Apakah Tuan bersedia menceritakannya kepada Saya?” dengan terbata-bata Aku mengucapnya. Aku takut jika dirasa menyinggung dan terlalu mencampuri. Beliau kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Apa yang kulihat? Sebuah kesedihan lelaki tua yang sepertinya hanya dipendamnya. Lagi-lagi Aku tak mengerti. Hanya senyuman yang selalu ditujukan padaku. Lelaki tua yang ramah untuk dipandang, tapi tak terdengar bisik ucapannya.

Beliau kemudian menyimpan foto itu di dalam sakunya. Aku tak mengerti. Selalu tak mengerti apa yang dilakukannya. Menepuk pundakku sambil tersenyum untuk kedua kalinya. Apa artinya? Aku seperti pemuda yang patut untuk diberikan tepukan pundak dari seseorang yang berpengalaman untuk masa depanku yang lebih baik.

“Apa Tuan ingin mengatakan sesuatu? Jika Tuan tak sanggup berbicara, Saya dapat memahami bahasa isyarat.” Beliau menggelengkan kepalanya. Tak lama aku pulang dengan rasa penasaran yang berlipat.

Setiap hari Aku melewati rumahnya, dan setiap hari pula Aku melihatnya seperti biasanya. Kali ini sore hari, Aku ingin mampir sebentar untuk memberikan sedikit makanan yang kubawa. Aku mengunjungi rumahnya untuk ketiga kalinya.

“Selamat sore, Tuan. Maafkan saya jika harus mampir untuk ketiga kalinya. Saya membawakan martabak telur untuk Anda. Mohon dicicipi. Semoga dapat menemani waktu bersantai Anda di sore hari.” Seperti yang sudah kuduga. Senyuman kembali terlontar padaku. Aku tak lagi heran dan Aku memakluminya. “Nanti malam saya akan kesini lagi, Tuan. Masih ingin rasanya saya bercakap-cakap dengan Tuan. Semoga Tuan mengijinkannya.” Kali ini Aku yang tersenyum. Beliau hanya terdiam tanpa senyuman lagi.

Malamnya aku kembali ke rumah itu. Terlihat sangat sepi. Aku berfikir mungkin saja Tuan sudah tertidur. Tapi bukankah sore tadi aku sudah memberitahunya bahwa aku akan datang malam ini? Mungkin Beliau terlupa. Anehnya pintu rumah hanya terbuka dengan lampu menyala terang. Kulihat isi rumahnya benar-benar kosong. Apakah Beliau sudah pindah? Apakah cukup waktu dari sore hingga malam untuk mengemasi barang-barang? Sungguh tak ada barang satupun yang tertinggal. Tak ada pula Tuan Bara di dalamnya. Benar-benar seperti rumah kosong yang baru saja dibersihkan seluruh isinya. Jika benar Beliau pindah, apa boleh buat? Mungkin Beliau merasa risih dengan kehadiranku yang mungkin tidak dinantinya.

Seperti biasa, setiap harinya selalu melewati rumah Tuan Bara. Benar-benar aneh. Aku melihat Beliau duduk manis seperti hari biasanya dengan foto yang biasa dilihatnya. Bukankah semalam benar-benar kosong? Kali ini rasa penasaranku bertambah berkali-kali lipat. Dengan tenang Aku menghampiri Beliau seperti biasanya.

“Permisi, Tuan. Maaf saya mengganggu waktu bersantai Tuan. Apakah Tuan ingat kemarin sore saya bilang bahwa saya akan datang lagi malam harinya? Saya benar-benar datang malam itu dan mendapati seluruh isi rumah benar-benar kosong. Tuanpun juga tidak ada di sana. Apakah Tuan pindah? Jika benar, lantas mengapa Tuan masih duduk di sini seperti biasa? Apakah Tuan sedang menunggu seseorang? Dan kalau saya boleh tahu, dimana Tuan pindah? Bukan apa-apa Tuan. Saya hanya ingin menyambung silaturrahmi.”

Beliau tersenyum lagi. “Pemuda, apakah kamu benar-benar penasaran padaku?Apakah kau mengira Aku bisu karena tak pernah berbicara dengan siapapun di sini? Apakah kau juga terkejut ketika pagi, siang, dan sore selalu mendapatiku di sini, kemudian malam harinya Aku tak ada dan barang di rumah pun tak ada?” Aku terkejut. Terdengar suara dari mulut Tuan Bara. Aku benar-benar terkejut. Beliau juga mengetahui semua perkiraanku.

“Maaf Tuan jika saya terlalu penasaran. Tapi apakah rasa penasaran saya membuat Tuan terganggu?”

“Dengar anak muda. Pertama, saya tidak bisu. Kedua, saya tidak tinggal di sini. Ini adalah rumah yang saya tempati sebelum istri saya pergi. Pagi, siang, dan sore saya di sini hanya untuk bersantai. Karena saya jenuh di rumah hanya mendengarkan anak dan menantu saya yang selalu bertengkar. Jika malam hari saya di rumah, itu tak masalah karena saya hanya tinggal tidur pada malamnya.”

Aku semakin tersontak. “Lantas mengapa Anda tidak mau berkomunikasi secara lisan dengan warga di sini? Dan foto itu, mengapa Anda selalu memandanginya dengan sedih?”

“Saya tidak mau warga tau siapa Saya. Saya hanyalah seorang saudagar yang trauma dengan manusia. Saya tidak mau tertipu lagi oleh manusia. Sehati-hatinya saya berbicara dan bersikap, manusia mempunyai cara cerdik jika dia akan berbuat jahat. Dan foto ini, adalah foto istri saya. Dia salah satu orang yang pernah menipu saya. Dengan harta yang saya miliki, Ia merampasnya lalu kabur. Saya tidak percaya lagi pada siapa-siapa.”

“Tak semua manusia jahat. Dan tak semua manusia hanya memanfaatkan. Tuan hanya harus memaafkan kejadian dan waktu.”

“Kau pintar menasihati anak muda. Aku hanya ingin mengatakan padamu. Berhati-hatilah menjalani hidupmu. Jangan mudah percaya pada orang lain. Jalanmu masih panjang, wahai anak muda.”

“Baik Tuan. Tetapi cobalah untuk bergaul lagi kepada manusia. Tak semua yang Anda dapat hanya kebohongan dari mereka. Terselip hati nurani yang baik pada setiap diri insan.”

Tuan itu hanya terdiam mendengar perkataanku. Tak apa bagiku, yang terpenting rasa penasaranku telah terjawab.

Sebarkan!

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked ( required )

KESEKRETARIATAN

Kesekretariatan LPM SCIENTA FMIPA UNS beralamat di Gedung UKM FMIPA UNS lt. 2 Jln. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Jebres, Surakarta (57126)

KONTAK KAMI

Terhubung dengan kami di sosial media bawah ini:
Atau email : lpmscientauns@gmail.com

KONTAK PERSON

Kontak person LPM SCIENTA FMIPA UNS :
  • Saras 08572868-5645 (Pimpinan)
  • Naura 081286086115 (Redaksi)
  • Isma 087735156155 (Humas)

KRITIK DAN SARAN

Apabila anda mempunyai pertanyaan, kritik, serta saran untuk LPM SCIENTA FMIPA UNS bisa langsung mengakses formulir di bawah ini :
Klik Formulir Kritik dan Saran