You are here:  / Fiksi / Sudah Lama

Sudah Lama

Oleh : Shafeera

Sania pulang dari kampus dengan jalan kaki. Sebenarnya, beberapa teman menawarinya untuk pulang bersama namun Sania menggeleng dan tetap ingin jalan kaki sendirian.

“ San, yuk bareng gue,” ajak salah satu orang.

Sania menggeleng

“ San, bareng gue aja yuk,” kata temannya yang lain, kali ini adalah seorang cowok.

“ Nggak mau, gue mau jalan kaki.”

“ Lo kenapa sih San? Sesekali bareng gue kenapa?” katanya lagi

Sania menghembuskan napas pelan, dia berusaha mengatur emosinya agar tidak meledak ke orang lain.

“ Ehm, gue emang lagi pengen jalan kaki. Gak apa- apa kan? Sorry ya, Brian.” Kata Sania.

Brian seperti sudah menduga kata- kata apa yang akan dikeluarkan Sania. Entah berapa kali Briant harus menelan tolakan pahit dari mulut manisnya itu. Sebenarnya kata- kata Sania cukup sopan, tidak ada nada keras ataupun campakkan dari setiap penolakannya. Namun, kata- kata itulah yang malah membuatnya merasa tersakiti.

Sania adalah perempuan terakhir yang diyakini Briant sebagai jodohnya kelak. Dari sekian perempuan yang pernah dekat dengannya, Sania lah satu- satunya yang mampu menarik perhatiannya. Sania juga satu- satunya perempuan yang pertama kali menolaknya. Di segala sisi, Sania adalah satu-satunya bagi Brian.

Selama beberapa bulan ini, Brian berusaha keras untuk dekat dengan Sania.Segala jurus telah ia lakukan untuk mendapatkan perhatian gadis itu. Namun apa yang didapat Briant? Nihil. Usaha Briant selama ini nol besar. Sampai saat ini sikap Sania kepada Briant masih sama seperti saat pertama kali Briant berkenalan dengannya- tak tertarik.Briant harusnya berhenti untuk mengejar Sania, namun semakin kesini Brian semakin penasaran pada hati beku Sania. Briant penasaran kenapa Sania bersikap sedingin itu kepadanya. Tidak! Tidak hanya kepadanya. Ternyata Sania juga dingin kepada semua  teman laki- lakinya. Briant ingin tau apa yang ada di dalam hati gadis cantik itu. Briant ingin tau apa yang membuat Sania menutup hatinya rapat- rapat.

Setelah Briant dan motornya menghilang di persimpangan jalan. Sania kembali melanjutkan jalannya. Sania memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, dia berbelok ke taman dan duduk di dekat kolam ikan. Bayangan Sania muncul di dalam air.

“ Apa kau melakukannya dengan baik?” kata Sania sambil tersenyum.

“ Kau harus melakukannya dengan baik. Kau sudah janji padaku,” katanya lagi.

——–

Pagi harinya Sania berangkat ke kampus seperti biasa. Sejak tadi malam, handphone nya tidak berhenti berdering dengan keras. Ucapan selamat ulang tahun datang membanjiri layar hp Sania. Teman- teman dekatnya beramai- ramai datang ke rumahnya untuk membuat surprise kecil- kecilan.

“ San, bilang sesuatu dong buat kita, kita kan udah jauh- jauh datang kesini buat ulang tahun lho….” kata seorang teman.

“ Terima kasih banyak,” kata Sania sambil tersenyum.

Tepuk tangan teman- temannya bergemuruh

“Senyum Sania memang segalanya,” kata yang lain.

Sebenarnya hati Sania datar saja dengan semua kejutan itu tapi dia tidak ingin melukai hati teman- temannya. Sampai pukul dua dini hari rumah Sania riuh ramai, akibatnya dikeesokan hari matanya persis seperti panda. Lingkar hitam di bawah matanya begitu mencolok, kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih. Kalau boleh dibilang sejak kemarin Sania hanya punya waktu dua jam untuk tidur. Sebelum teman- temannya melaju ke rumah, Sania belum tidur sama sekali. Sania mempunyai kebiasaan untuk tidur lewat jam dua belas malam. Dia berpegang teguh pada kebiasaannya itu. Entah dia sedang mengantuk atau tidak, dia tetap tidak akan tidur sampai jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam. Kebiasaan ini telah dilakukan Sania sejak satu tahun yang lalu. Sania meyakini bahwa di suatu tempat di negara lain, ada seseorang yang sedang berjuang untuk mimpinya dan hampir tidak pernah menghabiskan waktunya untuk tidur dengan nyenyak. Dan gadis loyal bernama Sania dengan setia sedang menunggunya di negara asal.

Handphone Sania kembali berbunyi. Sebuah email masuk. Hati Sania tiba- tiba berdegup kencang. Buru- buru ia mengecek isi pesan itu.

Apa kabar Sania? Selamat ulang tahun ya. Sebenarnya aku ingin mengucapkan ini secara langsung padamu. Tapi kau tahu kan aku tak bisa. Maaafkan aku ya….

Sania, besok adalah hari penilaian finalku. Doakan aku ya…. Aku sangat merindukanmu…..

Sania mengangguk yakin. Aku selalu mendoakanmu, apa kau tak merasakannya? Kata Sania dalam hati kemudian mengetiknya sebagai balasan. Sania tau Rey tidak mungkin akan membacanya. Namun Sania tetap mengirimnya.

“Lakukan dengan baik dan buatlah aku bangga padamu,” kata Sania sambil tersenyum

Kuliah kewirausahaan telah usai. Dari awal jam masuk sampai jam berakhir, Sania beberapa kali menguap dan hampir tertidur. Briant yang sejak tadi memperhatikan gerak- geriknya, berjalan mendekati Sania yang sedang duduk duduk menunggu kuliah selanjutnya dimulai.

“ San, nih kopi,” kata Briant sambil menyodorkan satu cup kopi.

“ Thanks, ya,” jawab Sania

“ Lho lagi lihat apa an San?” kata Briant sambil menggeser kepalanya untuk melihat apa yang ada di laptop Sania.

“ Ini? ini materi kuliah tadi. Tadi aku baru aja minta dari dosen.”

“ Wah… gue minta ya. Lho kan tau gue payah banget di bidang yang satu ini. Ajari gue dong San, gue privat deh sama lho… ya… ya….”

Sania hanya geleng- geleng melihat bujuk rayu Briant. Sania tahu kalau sebenarnya Briant hanya pura- pura saja. Briant cukup pintar untuk segala mata kuliah namun kenapa dia tidak bisa menjadi the best di mata kuliah kewirausahaan? Selidik punya selidik ternyata dia membiarkan Sania untuk mengunggulinya. Dia tahu Sania sama hebat seperti dirinya. Briant juga tahu kalau mata kuliah yang paling diincar Sania untuk menjadi mahasiswa paling bersinar di hadapan dosen adalah kewirausahaan. Maka dari itu Briant melepaskan mata kuliah itu dan membiarkan Sania menjadi the best. Alasannya sederhana, Briant hanya  tidak ingin bersaing dengan Sania dan jika dia membuatnya kalah maka dia juga akan merasa sedih seperti yang dirasakan Sania.

“ Jangan berlaga puitis deh, lho.” Kata Sania marah saat pertama kali dia mendengar hal itu

Saat itu Brian kelabakan untuk meminta maaf pada Sania. Briant tidak pernah berfikir bahwa Sania akan semarah itu padanya. Untungnya, setelah beberapa lama amarah Sania reda dan Briant kembali mencoba dekat dengannya.

Briant sedang membuka jejaring sosialnya ketika sebuah video masuk di laptop Sania.

“ San, ada video buat lho nih.”

“ San, apa kau melihatku? Ehm, Sania… apa kau masih ingat mimpi kita berdua… Saat itu kau dan aku bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi… Kau dan aku berlatih bersama untuk bisa berada di atas panggung yang megah… Pada akhirnya saat audisi tiba, hanya aku yang akan berangkat dan kau berkata bahwa kau akan mendukungku dan selalu ada disampingku…. Aku juga berkata padamu untuk selalu menungguku. Sania… hari ini aku menghancurkan mimpi itu. Aku kalah di final. Aku tidak bisa debut, aku tidak bisa naik ke atas panggung walaupun hatiku saat ingin melakukannya. Aku masih menunggu kabar dari CEO tentang apa yang akan terjadi pada tim kami. Kau tau kan jika kemungkinan besar tim kami akan dibubarkan? Dan… mungkin saja tim kami akan ditendang keluar dari agensi ini… Apa yang harus aku lakukan sekarang?…. Maafkan aku…”

Air mata Sania mengalir deras di pipinya. Dia menangis sangat keras.

“ Rey…. ”

Sania bisa merasakan apa yang dirasakan kekasihnya itu. Sania tahu betapa Rey berusaha sangat keras untuk mimpinya itu. Sania tahu Rey sangat menginginkan mimpinya segera terwujud. Sania tahu jika Rey gagal pada final ini maka kemungkinan terburuk baginya adalah mengubur mimpinya dan kehilangan masa depannya. Sania tahu segalanya tentang Rey. Sania tahu Rey telah mempertaruhkan hidupnya di garis ini. Kini apa yang akan terjadi padanya? Sania cemas.

“ Mungkin aku harus menunggu untuk waktu yang lebih lama lagi. Sania…apakah kau akan tetap menungguku?”

Sania terus menangis tanpa henti. Dia tidak bisa membendung gejolak dihatinya. Rey, apa kau baik- baik saja? Sania menatap mata Rey. Dia tau bahwa laki- laki itu sedang menahan air matanya untuk tidak tumpah. Saat ini, Sania tidak tahu apa yang sedang dirasakan Rey. Apakah air mata yang telah keluar dari Sania sepadan dengan penderitaan yang dirasakan Rey saat ini? Apakah air mata itu cukup untuk berbagi kesedihan denganmu, Rey?

Briant tahu sekarang mengapa Sania tetap mengunci hatinya. Dia baru tahu kalau selama ini Rey telah mengisi hati itu dan tidak ada ruang yang tersisa lagi baginya. Briant baru menyadari bahwa Sania tidak mengijinkannya secara halus masuk melalui celah- celah hatinya.

“ Kau tau kan sekarang mengapa aku bersikap seperti ini padamu. Aku ingin kau berhenti mengejarku walaupun aku tak mengungkapkannya secara langsung padamu. Kau tau Rey telah menggariskan mimpinya disana, dan kau perlu tau bahwa aku juga menggariskan hatiku untuk selalu menunggunya. Hidup ini bukan untuk bercanda. Jangan terlibat dalam lingkaran kami, karena kami berdua sudah mengalami banyak perderitaan untuk hal ini. Briant, aku memintamu untuk berhenti. Jangan mencoba melampaui batasan ini.” kata Sania beberapa hari kemudian.

——

Tiga tahun telah berlalu. Sticky notes di dinding Sania penuh dengan doa darinya untuk Rey. Selama waktu itu pula Sania dan Rey tidak pernah bertukar informasi satu sama lain. Sania tahu bahwa Rey tidak diperkenankan menghidupkan alat komunikasi selama proses trainingnya kembali dilaksanakan.

Sania membaca catatan- catatan yang telah dibuatnya selama ini.

Semoga kau selalu sehat, Rey ^-^

Rey, jangan lupa makan!

Apa kau hari ini sangat sibuk? L

Rey, apa kau berhasil mencuri hati CEO?

Aku ingin melihatmu segera debut J

Sania tersenyum. Diambilnya satu sticky notes kosong lagi dan dia mulai menulis:

AKU MERINDUKANMU

Seseorang mengetuk pintu rumah ketika Sania baru saja akan menempel notes yang telah dibuatnya.

Sebuah surat mungil diterimanya dari seorang anak kecil yang berpura-pura menjadi loper surat. Apa kau sedang ingin menggodaku adik kecil? Pikir Sania.Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum adik kecil itu pergi.

AKU MERINDUKANMU

Dug. Sania terpaku. Sania tau tulisan tangan itu milik siapa. Apa itu kau?

Sania bergegas menuju pantai. Hatinya campur aduk setelah menerima surat itu. Sania tidak tau pasti apakah itu dia atau bukan. Hanya saja dia ingin mengikuti suara hatinya untuk memastikan. Apa yang akan aku lakukan jika ternyata itu bukan kau? Aku benar- benar sangat merindukanmu.

“ Sania, apa kau akan terus berdiri dan menangis disitu? Apa kau tidak ingin melihat ku lebih dekat?”

“ Rey,” katanya lagi

Rey berjalan mendekati Sania dan memeluknya. Dia tidak tahan melihat gadis yang dicintainya itu menangis sendirian karenanya.

“ Apa kabar Sania? Aku merindukanmu. Aku benar- benar merindukanmu dalam waktu yang lama,” bisik Rey.

“ Kenapa kau baru datang sekarang? Apa kau tahu aku selalu menunggumu?” ungkap Sania

“ Maaf… maafkan aku karena sangat terlambat menemuimu, Sania.”

Epilog:

Apa kabar Sania? Sekarang aku benar- benar berdiri dihadapanmu. Maafkan aku karena telah memintamu untuk selalu menungguku. Kau tahu bahwa mimpiku hampir hancur dan sulit untuk membangunnya kembali, itulah alasan ku datang terlambat menemuimu.Saat itu aku bukan apa- apa bila tak ada dirimu. Aku kembali berdiri saat rinduku padamu tenggelam begitu dalam. Kini aku dapat tersenyum dan kau pun juga tersenyum. Aku senang bisa melihatmu lagi ditempat yang sama, Sania. Ungkap hati Rey

Sebarkan!

LEAVE A REPLY

Your email address will not be published. Required fields are marked ( required )

KESEKRETARIATAN

Kesekretariatan LPM SCIENTA FMIPA UNS beralamat di Gedung UKM FMIPA UNS lt. 2 Jln. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Jebres, Surakarta (57126)

KONTAK KAMI

Terhubung dengan kami di sosial media bawah ini:
Atau email : lpmscientauns@gmail.com

KONTAK PERSON

Kontak person LPM SCIENTA FMIPA UNS :
  • Saras 08572868-5645 (Pimpinan)
  • Naura 081286086115 (Redaksi)
  • Isma 087735156155 (Humas)

KRITIK DAN SARAN

Apabila anda mempunyai pertanyaan, kritik, serta saran untuk LPM SCIENTA FMIPA UNS bisa langsung mengakses formulir di bawah ini :
Klik Formulir Kritik dan Saran